Apa Itu Henti Jantung? Dan Penatalaksanaan Tindakan (Algoritme) Pada Penderita Henti Jantung

Henti Jantung (cardiac arrest) adalah suatu keadaan dimana sirkulasi darah berhenti akibat kegagalan jantung untuk berkontraksi secara efektif. Secara klinis, henti jantung itu ditandai dengan tidak adanya nadi dan tanda-tanda sirkulasi lainnya.
Henti jantung sendiri dapat disebabkan oleh 4 irama EKG, yaitu:
1.  Fibrasi Ventrikel (VF).
2.  Takikardi Ventrikel tanpa nadi (VT).
3.  PEA (Pulse Electrical Activity).
4.  Asistol.
Pertanyaan muncul, apa yang mesti dilakukan jika ada penderita atau pasien yang mengalami henti jantung (cardiac arrest)? Jawabannya adalah dengan mengikuti algoritma henti jantung.
Jika kita menemukan ada penderita henti jantung, segera minta pertolongan dengan orang terdekat Anda. Segera lakukan resusitasi jantung paru. Jangan lupa berikan oksigen dan pasang monitor. Jika gambaran di monitor adalah gambaran: VT atau VF segera RJP selama 2 menit dan pasang akses IV. Jika gambaran EKG masih shockable ulangi RJP selama 2 menit lagi, lalu siapkan epinefrin tiap 3-5 menit, pertimbangkan alat bantu napas jalan lanjut. Jika masih ada gambaran shockable (VT/VF) ulangi lagi RJP selama 2 menit, lalu berikan amiodaron dan atasi penyebab yang reversibel. Baca Juga: Gambaran EKG: Ventrikel Takikardi, Ventrikel Fibrasi, Asistol Dan PEA

Jika tidak ada tanda-tanda kembalinya sirkulasi spontan (ROSC) : atau ada gambaran Asistole /PEA maka segera RJP 2 menit, pasang akses IV, epinefrin tiap 3-5 menit, pertimbangkan alat bantu jalan napas lanjut, jika irama tidak shockable RJP 2 menit lagi dan atasi penyebab yang reversibel. Jika irama masih tetap tidak shockable (Asistole/PEA) maka kembali ke protap awal, yaitu: segera RJP 2 menit, pasang akses IV, epinefrin tiap 3-5 menit, pertimbangkan alat bantu jalan napas lanjut.
Untuk lebih jelasnya penanganan henti jantung melalui algorotme henti jantung dapat melihat gambar di bawah ini:

Sebagai tambahan: jika menemukan pasien dewasa dengan VF atau VT tanpa nadi diberikan energi kejutan 360 joule pada defibrator monofasik atau 200 joule pada defibrator bifasik.
Pada anak, energi kejut diberikan dengan dosis 2-4 joule/kgBB dan tidak melebihi energi yang diberikan kepada penderita dewasa.
Penggunaan defibrator untuk tindakan kejut listrik tidak diindikasikan pada pasien dengan asistol atau PEA.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Apa Itu Henti Jantung? Dan Penatalaksanaan Tindakan (Algoritme) Pada Penderita Henti Jantung"

Posting Komentar